Secarik kertas bercerita
Udara
pagi serasa berhembus menusuk tulang. Aku membuka mata yang terasa berat ingin
kembali mengurai mimpi, dibukanya gorden berenda pucuk cahaya menusuk sela-sela
benda bening tak berwarna. Seperti biasa aku bersiap dengan tas biru dan sepatu
slop hitam. Gemerisik burung mulai bersahutan. Hari ini harus datang pagi
karena ada piket kelas.
“Buk, Sari berangkat
ya. Assalamualaikum” Kataku sambil berlari.
“Iya nak, hati – hati.
Waalaikumussalam” sahut ibuku dari
dapur.
Hari
ini ibu sibuk sekali ada pesanan kue yang harus diantar pagi ini. Aku
melenggang dengan sepeda biru butut kesayanganku. Sambil bernyanyi ku nikmati
kabut pagi serasa menetes membasahi baju seragam kebanggaanku.
“Hei kecil, santai
sekali kau mengayuh sepeda bututmu” sahut seorang laki laki dari belakang.
Seketika aku menoleh ke belakang. Aku mengenal suara itu. Munir namanya. Teman
sekelasku. Orangnya pendiam.
“Eh kau. Berangkat pagi juga nih” sapaku bersahabat.
Tanpa di jawab, dia
melaju dengan sepeda merahnya. Sombong sekali dia entah tidak mendengar atau
pura-pura tidak mendengar.
“Dasar nyebelin. Awas
kau” teriakku tanpa didengar.
Kutinggalkan dia. Ku
kayuh cepat-cepat sepedaku menuju ke parkiran sepeda. Jam sudah menunjukkan
pukul 06.15 tandanya bel masuk sebentar lagi berbunyi. Aku berlari segera ke
kelas mengambil sapu dan mengerjakan tugas piketku hari ini. Sudah ada 3
kawanku menunggu.
“Huah selesai juga.
Untung nggak telat” gumamku sembari duduk di teras melepas peluh. Satu persatu
temanku yang lain datang. Jam menunjukkan pukul 06.30. tak sengaja aku melamun.
Aku memang tidak begitu mengenalnya. Yang aku tahu dia laki-laki yang pendiam, cuek dan sangat tertutup. Hanya saat-saat tertentu dia bisa berubah menjadi badut yang cerewet.
Aku memang tidak begitu mengenalnya. Yang aku tahu dia laki-laki yang pendiam, cuek dan sangat tertutup. Hanya saat-saat tertentu dia bisa berubah menjadi badut yang cerewet.
Dia dulu yang pertama
kali menarik perhatianku di awal masuk. Tapi hal itu tak berlanjut lama.
Mungkin karena dia sudah dekat dengan perempuan lain. Bel masuk mengusir
lamunanku.
Pagi ini pelajaran
pertama adalah bahasa Indonesia. Pak Wina namanya, beliau seorang yang tegas
tapi humoris. Setiap masuk kelas tercium khas aroma tugas-tugas yang menunggu
untuk dibabat murid-murid. Tidak kalah horornya karena tugas yang beliau berikan
itu selalu berlipat ganda. Sampai membuat pusing murid-muridnya. Tapi beliau
seorang yang santai.
Kali ini tugas beliau
adalah mengarang sebuah puisi bertema ‘Keindahan Ciptaan Tuhan’. Tanpa basa
basi langsung waktu berputar otak pun ikut berputar. Kebiasaan lain beliau
setiap murid-muridnya sedang memutar otak, beliau hanya duduk santai menatap smartphonenya
sesekali beliau bercerita yang membuat konsentrasi kami pecah seketika.
Dikelas, aku dan si dia
tidak pernah berkomunikasi. Hanya hal-hal penting yang kami bicarakan. Ya
karena memang tidak terlalu kenal, dan juga dia sedang dekat dengan perempuan.
Apalah daya aku juga tidak berharap ingin kenal dengan dia.
“Sudah selesai
anak-anak? Waktu tinggal 10 menit lagi” sahutnya khas dengan logat jawa kental
ditengah hening suasana kelas.
Seketika kami kompak
berteriak dengan kata-kata penolakan masing-masing. “Loo pak baru juga 15
menit” teriak Dita temanku yang selalu duduk di pojokkan.
“Waktunya tinggal 10
menit lagi. Setelah itu sebelum dikumpulkan salah satu maju kedepan untuk
membacakan karyanya”
Tidak selang lama ada
salah satu orang maju kedepan. Aku masih sibuk dengan puisiku tanpa
menghiraukan siapa yang maju. Kemudian terdengar suara yang memekik telingaku.
Suara yang ku kenal tapi tidak akrab ditelingaku. Aku melanjutkan tulisanku.
Setelah Isna teman sebangkuku menyenggolku.
“Sar, dengerin tuh
puisinya Munir menyentuh banget” katanya sambil menggoyang-goyang lenganku.
“Apa?” jawabku malas.
“Lihat tuh dia, pandangan matanya mengarah ke siapa. Dengerin juga puisinya
bagus banget. Sar ayolah Sar” paksanya terus menggoyang lenganku.
“Alah paling juga
puisinya tentang cinta alay-alay gitu buat ceweknya” jawabku ketus sambil tetap
melanjutkan tulisanku. Ditengah asik
menulis tak sengaja aku lihat dia sesekali. Terkejut bukan kepalang.
“Dia melihatku?”
tanyaku dengan hati terkaget. “oh Tuhan.. apa ini?” gumam dalam hati. Menurutku
itu hanya tidak sengaja saja. Tapi mata itu seperti tak akan hilang dalam
ingatanku. bayang-bayang itupun kuhapus secepatnya mengingat dia tak lagi
sendiri.
Hari itu berlalu.
Seminggu berlalu. Aku tak ambil susah memikirkan orang menyebalkan yang
bertingkah aneh itu. Didepan teman-teman tak ada tanda-tanda apapun dari dia.
Malah semakin menyebalkan. Tapi ketika sendiri, mata itu seperti bercerita apa
yang ada difikirannya membuatku melayang. Ya dia memang memiliki wajah
menyenangkan. Kulit hitam manis dia punya.
Pagi itu hari kamis
lagi. Seperti hari kamis sebelumnya aku dan 3 kawanku kebagian piket kelas. Mau
tidak mau aku harus datang lebih pagi dari kawan yang lain. Tapi kamis ini
nampaknya 3 kawan piketku lupa atau entah terlambat, aku sendiri yang harus
menyelesaikan seluruh kelas ini. Tak lama dibalik debu-debu muncul seseorang.
“Pagi sar” senyumnya merekah
tidak seperti biasanya. “Iya pagi juga Nir” malu-malu aku jawab sapaan
hangatnya. Kali ini dia bersahabat. Aku penasaran apa sih yang dia sembunyikan.
Kadang aku
berandai-andai menghayal sesuatu. Tapi aku lupakan.
“Dia tidak sendiri Sar. Sudahlah lupakan. Hanya iseng” kataku pada diriku sendiri. kawanku Isna sering bercerita tentang Munir dan kawan-kawannya. Lambat laun aku sedikit mengenalnya.
“Dia tidak sendiri Sar. Sudahlah lupakan. Hanya iseng” kataku pada diriku sendiri. kawanku Isna sering bercerita tentang Munir dan kawan-kawannya. Lambat laun aku sedikit mengenalnya.
Aku
dan kawan-kawan cewek lain suka berkumpul berbagi cerita di pojokan teras.
Sambil mengunyah beberapa biskuit yang selalu dibawa oleh Rani temanku yang
suka berbagi. Ada beberapa topik yang kami sukai. Terutama ya masalah
teman-teman cowok dikelas ini. Atau artis artis yang melunjak naik daun
gara-gara satu masalah yang nggak penting. Mengisi waktu kosong kadang juga
membahas mimpi-mimpi kita setelah tamat SMA ini. Atau bahkan juga sampai
masalah jodoh pun dibahas. Sering kita memasang-masangkan salah satu dengan
cowok dikelas kita. Membayangkan bagaimana esok ketika kita sudah sama sama jadi
orang kita reuni membawa keluarga kecil masing-masing, diantara kita ada yang
berjodoh. Nampaknya lucu.
“Gimana ya kalau kamu
sama Radit ternyata berjodoh. Pasti lucu tuh hahahaha” celetuk Rina kawanku
kepada Isna membuat semua tertawa terbahak. Mengingat Isna adalah kawan
sekelasku yang punya postur tubuh yang agak gendut dan sipit sedangkan Radit
yang punya postur kurus tinggi. Membayangkan seperti angka 10. Tapi itu hanya
guyonan semata. Tidak ada yang sakit hati antara kami.
Kadang gerombolan
laki-laki di seberang teras yang tak lain grup kawan laki-laki dikelasku itu
menguping apa yang sedang kami biacarakan. Kadang juga mereka lewat sambil
menggoda kami yang asik dengan cerita rakyat ibu-ibu.
“Arisannya yang dapet
siapa buk? Ngrumpi aja” usil Radit dengan sengit. Ini biasanya membuat sumbu
api Rina tersulut “Apa sih kurus
ikut-ikut aja” timpal Rina dengan kepala berapi-api. “Sudah Rin nggak usah
didengerin si Radit. Dia mah iri aja sama kita” hiburku.
Namun ditengah deretan
cowok-cowok itu ada satu mata yang membuatku terdiam tak lagi tertawa. Ya dia
si mata itu, Munir. “Woy nglihatin siapa tuh” gertak Isna padaku. “Ah nggak.
Gimana tadi sampai mana?” jawabku mengalihkan.
Malam hari.. sebelum
tidur biasa aku tulis sebuah kata kata di diary ku. Aku diam sejenak. “Apa ini
efek dari dulu aku mengagumi dia. Ah sudahlah aku nggak mau berpusing-pusing.
Aku ingin fokus dengan tujuanku”
Beberapa organisasi di dalam maupun diluar sekolah aku dan dia terlibat. Ya memang kita sekelas. Apa salahnya. Hanya mata itu yang seringkali menggangguku.
Beberapa organisasi di dalam maupun diluar sekolah aku dan dia terlibat. Ya memang kita sekelas. Apa salahnya. Hanya mata itu yang seringkali menggangguku.
3 tahun berlalu. Dia
hilang ada difikiranku. Dia terlalu abu-abu. Tidak hitam tidak putih. Apa iya
aku jatuh cinta?. Jika iya aku tak ingin sekarang. Aku ingin esok dihari yang
tepat. Hari itu tiba hari perpisahan setelah bulan lalu aku dan beribu pelajar
bertarung waktu, tenaga, dan fikiran melawan ujian besar menembus lautan masa
SMA. Hari ini kami merayakan pesta kelulusan dengan suka cita. Masuk bareng
keluar pun bareng. Kita foto bersama didepan gedung yang menjadi saksi
perjalanan aku dan kawan-kawan selama kurang lebih 1095 hari. Setelah ini
kehidupan yang sebenarnya akan dihadapi. menghilang semua dengan tujuan
masing-masing begitupun ingatanku terhadap Munir yang selama ini menghantuiku.
Beberapa tahun berlalu. Kuliah dan lulus. Dan tak disangka beberapa tahun lagi
kesepakatan reuni itu menjelang tiba. Kesepakatan yang selalu aku ingat dibawah
rimbunan pohon gedung hijau sekolah.
“tok..tok..tok” pintu diketuk. “Siapa Sar? Apa kamu punya janji
dengan seseorang? Kok malam-malam bertamu” Tanya ibu. “tidak bu. Hari ini kan
hari libur. Coba Sari buka pintunya” aku bergegas menuju pintu penasaran siapa
yang datang.
“Assalamualaikum.” “Iya
Wa’alaikumussalam, sebentar.” Jawabku
Ternyata Isna. Kawan
lamaku sebangku saat SMA. Rindu sekali aku dengannya. “Isna? Ya Allah rindu
sekali aku denganmu. Gimana kabarmu Is?” aku memeluknya dengan penuh bahagia.
“Alhamdulillah Sar kabarku baik. Akupun rindu denganmu. Bagaimana dirimu
sekarang? Sudahkan punya pasangan?” tanyanya penasaran membuatku malu. “Aku
masih bersama ayah ibuku Is.”
“Eh Sar aku kesini
selain silaturahim aku ada sesuatu buatmu. Pas dengan keadaanmu sekarang”
katanya sambil menyerahkan sebuah kertas ungu semacam surat. Aku baca buru buru
disana tertulis ‘Aku akan datang besok
menemui ayah ibumu. Siapkah kau?’. Aku baca berulang kali. Singkat tapi
cukup membuatku terdiam dan bertanya-tanya. Isna pamit pulang dengan tanpa
menjelaskan sedikitpun tentang kertas itu. “Sudahlah tunggu besok. Kabarkan ke
ayah ibumu. Aku pulang dulu ya” pamitnya yang semakin membuatku bingung.
Aku baca berulang kali
kertas ungu itu. siapa yang menulis? Apa maksutnya? Pertanyaan bermunculan
difikiranku. Ayah dan ibu seperti mengetahui hal ini namun mereka setiap aku
Tanya selalu mengalihkan pembicaraan.
Keesokan harinya hari
yang kutunggu obat penasaranku tiba. Malam tepat pukul 20.00 pintu diketuk “tok..tok..tok.. Assalamualaikum” kali
ini suara besar dan berat tapi sedikit-sedikit aku kenali suara itu. Ibu yang
membukakan pintu. Aku tetap dalam kamarku. “Mari silahkan masuk Pak Bu nak Munir”
suara ibu mempersilahkan masuk. Aku terkaget. Apa aku tak salah dengar? Nama
itu jelas mengiang di telingaku, ibu menyebut nama Munir. Kembali ku eja
M-U-N-I-R. tapi aku tak yakin, dia kan sudah menghilang bak ditelan bumi selama
beratus-ratus tahun lalu mungkin. Aku beranikan keluar kamar dan mengintip.
Dari kejauhan balik pintu. Mata itu persis waktu pertama kali dia memandangku.
Memang fisiknya sudah berubah dia lebih besar dan kekar tapi tetap kulit hitam
manis sawo matang keturunan ayahnya tidak hilang. Ya Allah di benar-benar Munir
si cowok menyebalkan dulu temanku SMA. Tak kusangka ternyata dari dulu sampai
sekarang ini arti semuanya. Dia datang langsung tanpa basa basi. Ini dibalik
sikap dia yang sok jaim dan cuek itu. Dia yang kelihatan membenciku. Aku tak
kenal dia ternyata ini. Lalu dimana perempuan yang dulu dekat dengannya? Ya
Allah aku bersyukur padaMu. Nikmat yang kau berikan kau kabulkan doa-doaku. Kau
berikan yang terbaik dengan cara yang terbaik dan tak disangka-sangka. Kami
bahagia. Dari kagum benci berakhir dengan bahagia. Kami hadiri acara reuni itu
bersama. Dan terkagetnya semua ternyata guyonan yang dulu dibahas berkali-kali
dibawah rimbun pohon di pojokan teras ruangan kecil itu terjadi. Bukan mereka
tapi kita.
Waah cerpen nya keren.. Membacanya seolah kita dibawa masuk ke dunia SMA lagi
BalasHapus