Rabu, 27 Juli 2016

cerpenku

Secarik kertas bercerita
Udara pagi serasa berhembus menusuk tulang. Aku membuka mata yang terasa berat ingin kembali mengurai mimpi, dibukanya gorden berenda pucuk cahaya menusuk sela-sela benda bening tak berwarna. Seperti biasa aku bersiap dengan tas biru dan sepatu slop hitam. Gemerisik burung mulai bersahutan. Hari ini harus datang pagi karena ada piket kelas.
“Buk, Sari berangkat ya. Assalamualaikum” Kataku sambil berlari.
“Iya nak, hati – hati. Waalaikumussalam”  sahut ibuku dari dapur.
Hari ini ibu sibuk sekali ada pesanan kue yang harus diantar pagi ini. Aku melenggang dengan sepeda biru butut kesayanganku. Sambil bernyanyi ku nikmati kabut pagi serasa menetes membasahi baju seragam kebanggaanku.
“Hei kecil, santai sekali kau mengayuh sepeda bututmu” sahut seorang laki laki dari belakang. Seketika aku menoleh ke belakang. Aku mengenal suara itu. Munir namanya. Teman sekelasku. Orangnya pendiam.
“Eh kau.  Berangkat pagi juga nih” sapaku bersahabat.
Tanpa di jawab, dia melaju dengan sepeda merahnya. Sombong sekali dia entah tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar.
“Dasar nyebelin. Awas kau” teriakku tanpa didengar.
Kutinggalkan dia. Ku kayuh cepat-cepat sepedaku menuju ke parkiran sepeda. Jam sudah menunjukkan pukul 06.15 tandanya bel masuk sebentar lagi berbunyi. Aku berlari segera ke kelas mengambil sapu dan mengerjakan tugas piketku hari ini. Sudah ada 3 kawanku menunggu.
“Huah selesai juga. Untung nggak telat” gumamku sembari duduk di teras melepas peluh. Satu persatu temanku yang lain datang. Jam menunjukkan pukul 06.30. tak sengaja aku melamun.
Aku memang tidak begitu mengenalnya. Yang aku tahu dia laki-laki yang pendiam, cuek dan sangat tertutup. Hanya saat-saat tertentu dia bisa berubah menjadi badut yang cerewet.
Dia dulu yang pertama kali menarik perhatianku di awal masuk. Tapi hal itu tak berlanjut lama. Mungkin karena dia sudah dekat dengan perempuan lain. Bel masuk mengusir lamunanku.
Pagi ini pelajaran pertama adalah bahasa Indonesia. Pak Wina namanya, beliau seorang yang tegas tapi humoris. Setiap masuk kelas tercium khas aroma tugas-tugas yang menunggu untuk dibabat murid-murid. Tidak kalah horornya karena tugas yang beliau berikan itu selalu berlipat ganda. Sampai membuat pusing murid-muridnya. Tapi beliau seorang yang santai.
Kali ini tugas beliau adalah mengarang sebuah puisi bertema ‘Keindahan Ciptaan Tuhan’. Tanpa basa basi langsung waktu berputar otak pun ikut berputar. Kebiasaan lain beliau setiap murid-muridnya sedang memutar otak, beliau hanya duduk santai menatap smartphonenya sesekali beliau bercerita yang membuat konsentrasi kami pecah seketika.
Dikelas, aku dan si dia tidak pernah berkomunikasi. Hanya hal-hal penting yang kami bicarakan. Ya karena memang tidak terlalu kenal, dan juga dia sedang dekat dengan perempuan. Apalah daya aku juga tidak berharap ingin kenal dengan dia.
“Sudah selesai anak-anak? Waktu tinggal 10 menit lagi” sahutnya khas dengan logat jawa kental ditengah hening suasana kelas.
Seketika kami kompak berteriak dengan kata-kata penolakan masing-masing. “Loo pak baru juga 15 menit” teriak Dita temanku yang selalu duduk di pojokkan.
“Waktunya tinggal 10 menit lagi. Setelah itu sebelum dikumpulkan salah satu maju kedepan untuk membacakan karyanya”
Tidak selang lama ada salah satu orang maju kedepan. Aku masih sibuk dengan puisiku tanpa menghiraukan siapa yang maju. Kemudian terdengar suara yang memekik telingaku. Suara yang ku kenal tapi tidak akrab ditelingaku. Aku melanjutkan tulisanku. Setelah Isna teman sebangkuku menyenggolku.
“Sar, dengerin tuh puisinya Munir menyentuh banget” katanya sambil menggoyang-goyang lenganku.
“Apa?” jawabku malas. “Lihat tuh dia, pandangan matanya mengarah ke siapa. Dengerin juga puisinya bagus banget. Sar ayolah Sar” paksanya terus menggoyang lenganku.
“Alah paling juga puisinya tentang cinta alay-alay gitu buat ceweknya” jawabku ketus sambil tetap melanjutkan tulisanku.  Ditengah asik menulis tak sengaja aku lihat dia sesekali. Terkejut bukan kepalang.
“Dia melihatku?” tanyaku dengan hati terkaget. “oh Tuhan.. apa ini?” gumam dalam hati. Menurutku itu hanya tidak sengaja saja. Tapi mata itu seperti tak akan hilang dalam ingatanku. bayang-bayang itupun kuhapus secepatnya mengingat dia tak lagi sendiri.
Hari itu berlalu. Seminggu berlalu. Aku tak ambil susah memikirkan orang menyebalkan yang bertingkah aneh itu. Didepan teman-teman tak ada tanda-tanda apapun dari dia. Malah semakin menyebalkan. Tapi ketika sendiri, mata itu seperti bercerita apa yang ada difikirannya membuatku melayang. Ya dia memang memiliki wajah menyenangkan. Kulit hitam manis dia punya.
Pagi itu hari kamis lagi. Seperti hari kamis sebelumnya aku dan 3 kawanku kebagian piket kelas. Mau tidak mau aku harus datang lebih pagi dari kawan yang lain. Tapi kamis ini nampaknya 3 kawan piketku lupa atau entah terlambat, aku sendiri yang harus menyelesaikan seluruh kelas ini. Tak lama dibalik debu-debu muncul seseorang.
“Pagi sar” senyumnya merekah tidak seperti biasanya. “Iya pagi juga Nir” malu-malu aku jawab sapaan hangatnya. Kali ini dia bersahabat. Aku penasaran apa sih yang dia sembunyikan.
Kadang aku berandai-andai menghayal sesuatu. Tapi aku lupakan.
“Dia tidak sendiri Sar. Sudahlah lupakan. Hanya iseng” kataku pada diriku sendiri. kawanku Isna sering bercerita tentang Munir dan kawan-kawannya. Lambat laun aku sedikit mengenalnya.
Aku dan kawan-kawan cewek lain suka berkumpul berbagi cerita di pojokan teras. Sambil mengunyah beberapa biskuit yang selalu dibawa oleh Rani temanku yang suka berbagi. Ada beberapa topik yang kami sukai. Terutama ya masalah teman-teman cowok dikelas ini. Atau artis artis yang melunjak naik daun gara-gara satu masalah yang nggak penting. Mengisi waktu kosong kadang juga membahas mimpi-mimpi kita setelah tamat SMA ini. Atau bahkan juga sampai masalah jodoh pun dibahas. Sering kita memasang-masangkan salah satu dengan cowok dikelas kita. Membayangkan bagaimana esok ketika kita sudah sama sama jadi orang kita reuni membawa keluarga kecil masing-masing, diantara kita ada yang berjodoh. Nampaknya lucu.
“Gimana ya kalau kamu sama Radit ternyata berjodoh. Pasti lucu tuh hahahaha” celetuk Rina kawanku kepada Isna membuat semua tertawa terbahak. Mengingat Isna adalah kawan sekelasku yang punya postur tubuh yang agak gendut dan sipit sedangkan Radit yang punya postur kurus tinggi. Membayangkan seperti angka 10. Tapi itu hanya guyonan semata. Tidak ada yang sakit hati antara kami.
Kadang gerombolan laki-laki di seberang teras yang tak lain grup kawan laki-laki dikelasku itu menguping apa yang sedang kami biacarakan. Kadang juga mereka lewat sambil menggoda kami yang asik dengan cerita rakyat ibu-ibu.
“Arisannya yang dapet siapa buk? Ngrumpi aja” usil Radit dengan sengit. Ini biasanya membuat sumbu api Rina tersulut  “Apa sih kurus ikut-ikut aja” timpal Rina dengan kepala berapi-api. “Sudah Rin nggak usah didengerin si Radit. Dia mah iri aja sama kita” hiburku.
Namun ditengah deretan cowok-cowok itu ada satu mata yang membuatku terdiam tak lagi tertawa. Ya dia si mata itu, Munir. “Woy nglihatin siapa tuh” gertak Isna padaku. “Ah nggak. Gimana tadi sampai mana?” jawabku mengalihkan.
Malam hari.. sebelum tidur biasa aku tulis sebuah kata kata di diary ku. Aku diam sejenak. “Apa ini efek dari dulu aku mengagumi dia. Ah sudahlah aku nggak mau berpusing-pusing. Aku ingin fokus dengan tujuanku”
Beberapa organisasi di dalam maupun diluar sekolah aku dan dia terlibat. Ya memang kita sekelas. Apa salahnya. Hanya mata itu yang seringkali menggangguku.
3 tahun berlalu. Dia hilang ada difikiranku. Dia terlalu abu-abu. Tidak hitam tidak putih. Apa iya aku jatuh cinta?. Jika iya aku tak ingin sekarang. Aku ingin esok dihari yang tepat. Hari itu tiba hari perpisahan setelah bulan lalu aku dan beribu pelajar bertarung waktu, tenaga, dan fikiran melawan ujian besar menembus lautan masa SMA. Hari ini kami merayakan pesta kelulusan dengan suka cita. Masuk bareng keluar pun bareng. Kita foto bersama didepan gedung yang menjadi saksi perjalanan aku dan kawan-kawan selama kurang lebih 1095 hari. Setelah ini kehidupan yang sebenarnya akan dihadapi. menghilang semua dengan tujuan masing-masing begitupun ingatanku terhadap Munir yang selama ini menghantuiku. Beberapa tahun berlalu. Kuliah dan lulus. Dan tak disangka beberapa tahun lagi kesepakatan reuni itu menjelang tiba. Kesepakatan yang selalu aku ingat dibawah rimbunan pohon gedung hijau sekolah.
tok..tok..tok” pintu diketuk. “Siapa Sar? Apa kamu punya janji dengan seseorang? Kok malam-malam bertamu” Tanya ibu. “tidak bu. Hari ini kan hari libur. Coba Sari buka pintunya” aku bergegas menuju pintu penasaran siapa yang datang.
“Assalamualaikum.” “Iya Wa’alaikumussalam, sebentar.” Jawabku
Ternyata Isna. Kawan lamaku sebangku saat SMA. Rindu sekali aku dengannya. “Isna? Ya Allah rindu sekali aku denganmu. Gimana kabarmu Is?” aku memeluknya dengan penuh bahagia. “Alhamdulillah Sar kabarku baik. Akupun rindu denganmu. Bagaimana dirimu sekarang? Sudahkan punya pasangan?” tanyanya penasaran membuatku malu. “Aku masih bersama ayah ibuku Is.”
“Eh Sar aku kesini selain silaturahim aku ada sesuatu buatmu. Pas dengan keadaanmu sekarang” katanya sambil menyerahkan sebuah kertas ungu semacam surat. Aku baca buru buru disana tertulis ‘Aku akan datang besok menemui ayah ibumu. Siapkah kau?’. Aku baca berulang kali. Singkat tapi cukup membuatku terdiam dan bertanya-tanya. Isna pamit pulang dengan tanpa menjelaskan sedikitpun tentang kertas itu. “Sudahlah tunggu besok. Kabarkan ke ayah ibumu. Aku pulang dulu ya” pamitnya yang semakin membuatku bingung.
Aku baca berulang kali kertas ungu itu. siapa yang menulis? Apa maksutnya? Pertanyaan bermunculan difikiranku. Ayah dan ibu seperti mengetahui hal ini namun mereka setiap aku Tanya selalu mengalihkan pembicaraan.

Keesokan harinya hari yang kutunggu obat penasaranku tiba. Malam tepat pukul 20.00 pintu diketuk “tok..tok..tok.. Assalamualaikum” kali ini suara besar dan berat tapi sedikit-sedikit aku kenali suara itu. Ibu yang membukakan pintu. Aku tetap dalam kamarku. “Mari silahkan masuk Pak Bu nak Munir” suara ibu mempersilahkan masuk. Aku terkaget. Apa aku tak salah dengar? Nama itu jelas mengiang di telingaku, ibu menyebut nama Munir. Kembali ku eja M-U-N-I-R. tapi aku tak yakin, dia kan sudah menghilang bak ditelan bumi selama beratus-ratus tahun lalu mungkin. Aku beranikan keluar kamar dan mengintip. Dari kejauhan balik pintu. Mata itu persis waktu pertama kali dia memandangku. Memang fisiknya sudah berubah dia lebih besar dan kekar tapi tetap kulit hitam manis sawo matang keturunan ayahnya tidak hilang. Ya Allah di benar-benar Munir si cowok menyebalkan dulu temanku SMA. Tak kusangka ternyata dari dulu sampai sekarang ini arti semuanya. Dia datang langsung tanpa basa basi. Ini dibalik sikap dia yang sok jaim dan cuek itu. Dia yang kelihatan membenciku. Aku tak kenal dia ternyata ini. Lalu dimana perempuan yang dulu dekat dengannya? Ya Allah aku bersyukur padaMu. Nikmat yang kau berikan kau kabulkan doa-doaku. Kau berikan yang terbaik dengan cara yang terbaik dan tak disangka-sangka. Kami bahagia. Dari kagum benci berakhir dengan bahagia. Kami hadiri acara reuni itu bersama. Dan terkagetnya semua ternyata guyonan yang dulu dibahas berkali-kali dibawah rimbun pohon di pojokan teras ruangan kecil itu terjadi. Bukan mereka tapi kita.